1. Sejarah Dusun Landean
Dusun Landean adalah salah satu dusun adat inti di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa Bayan sendiri dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan sejarah tertua di Lombok.
Secara sejarah, sebelum bernama Bayan, wilayah ini bernama Nagari Suwung. Nama Bayan baru muncul setelah siar Islam masuk lewat Labuan Carik yang dibawa murid Wali Songo Sunan Giri bernama Sunan Prapen sekitar abad XIV dan diterima oleh Datu Bayan saat itu.
Di masa itu, Bayan Timur menjadi pusat penyelenggaraan Adat Gama dengan istilah pemerintahan adatnya disebut Prabekel atau Pemangku Adat. Dari sinilah lahir dusun-dusun adat penyangga seperti Landean, Bayan Timur, Mandala, Karang Salah dan lainnya.
Orang Landean menyebut dusun mereka sebagai Bale Lokak.
• Landean dimaknai sebagai landean / landan = tempat yang landai, datar, dan panjang tempat leluhur membuka permukiman pertama setelah turun dari hutan adat Mandala. • Bale Lokak adalah sebutan untuk gubuk besar tempat berkumpulnya para Lokak (orang tua adat) untuk besesiru atau musyawarah. Bale yang di foto kamu itu adalah Bale Lokak itu sendiri - atap alang-alang, tanpa paku, tahan gempa, menjadi sekolah alam pertama bagi pemuda.
Seperti dusun Bayan lainnya, Landean memegang teguh filosofi "Adat Wadah, Agama Diri" dan sistem Wetu Telu, serta hukum adat tidak tertulis Awig-Awig untuk menjaga hutan adat dan mata air.
Sampai hari ini, pemuda Landean seperti yang di foto - bersapuk, bersarung tenun, tidak berbaju - adalah simbol bahwa mereka siap menjadi Melokaq: pelanjut adat, penjaga hutan, dan penjaga Bale.
2. Ngaji Makem / Ngaji Makam
Di Landean, orang menyebutnya Ngaji Makem. Di literatur disebut Ngaji Makam atau Ngaturang Ngulak Kaya.
Ini adalah tradisi tahunan yang masuk dalam rangkaian besar ritual Ruat Gumi / Begawe Alif di Lombok Utara. Di catatan lain juga disebut tradisi Ngaji Makam yang digelar tiap satu tahun sekali setelah panen hasil bumi.
Maknanya apa?
Ngaji Makem adalah cara orang Bayan bersyukur. Setelah panen, hasil bumi terbaik tidak langsung dimakan, tapi dihaturkan dulu kepada leluhur dan kepada Allah SWT.
Prosesi di Landean:
1. Bejelo / Ziarah: Warga Landean beramai-ramai ke makam leluhur / Makam Keramat di sekitar Bayan dengan membawa tembolaq / dulang berisi nasi, ketupat, telur, renggi, sumping, dan hasil kebun. 2. Tilawat & Zikir: Di makam, para kyai adat dan Pemangku memimpin pembacaan Al-Qur'an (Tilawat), zikir dan doa. Itulah kenapa disebut Ngaji Makem - mengaji di atas makam. 3. Ngaturang: Makanan yang dibawa kemudian dimakan bersama di area makam atau di Bale Lokak sebagai simbol kebersamaan dan sedekah bumi. 4. Meminta restu: Memohon agar tanah tetap subur, hujan tetap turun, dan awig-awig tidak dilanggar.
Bagi pemuda Landean, Ngaji Makem adalah ujian. Mereka yang di foto itu biasanya bertugas sebagai:
• Pembawa dulang • Penjaga prosesi • Pembaca ayat (yang sudah khatam)
Anak kecil di tengah foto itu adalah tanda regenerasi - di Landean, anak sudah diajak Ngaji Makem sejak kecil agar tidak lupa jalan pulang ke makam leluhurnya.
Jadi kalau diringkas: Landean itu rahimnya, Bale Lokak itu sekolahnya, Ngaji Makem itu cara mereka berterima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar