1. Arti Nama Bilok Petung
Menurut sejarah pendirian desa yang ditulis oleh tokoh-tokoh setempat, nama ini disepakati pada tanggal 3 Januari 2004 di Kantor Desa Sementara Polindes Dasan Bilok.
Awalnya banyak usulan nama: Muncarsari, Mayung Putih, Kokok Putek, Landean, Reguar, Sariduta, Sajang Utara. Bilok Petung akhirnya dipilih karena alasan sejarah:
Dahulu kala di kawasan Sajang dahulu terdapat sebuah tempat pembuangan sampah yang bernama TPA Bilok Pendagi yang dipimpin oleh Titi Kiyai Raden Musakap Jaksa Hati.
Secara harfiah menurut para tetua adat:
• Bilok = lurus, beberapa juga mengartikannya dengan bambu • Petung = petunjuk mulia • Jadi Bilok Petung = Petunjuk Lurus
Nama ini dianggap paling mewakili semangat adat, tradisi, dan budaya, karena di sekitar wilayah inilah penyebaran Islam dimulai di Lombok Utara.
2. Makna Simbol Monumen 3 Bambu
Monumen yang Anda ilustrasikan dengan 3 batang bambu runcing yang menjulang tinggi memiliki makna khusus bagi Desa Bilok Petung:
a. Tiga Dusun Pendiri
Desa Bilok Petung ditetapkan pada tanggal 28 Juni 2004 melalui SK Bupati Lombok Timur No. 5 Tahun 2004. Awalnya desa ini terdiri dari tiga wilayah Dusun: Dusun Birak, Dusun Bilok, dan Dusun Landean. Tiga batang bambu tersebut merupakan representasi persatuan ketiga desa pendiri yang berjuang bersama.
b. Bambu Petung itu sendiri
Di Sembalun, bambu petung tumbuh subur di seluruh desa dan digunakan dalam semua upacara, termasuk upacara kematian. Bambu petung adalah bambu raksasa yang kuat, kokoh, dan tidak mudah patah - melambangkan ketahanan masyarakat pegunungan yang tinggal di ketinggian 1000-1250 m di atas permukaan laut dengan iklim panas dan kering.
c. Bambu runcing = Hambatan
Di tingkat nasional, bambu runcing merupakan simbol perlawanan rakyat dengan persenjataan terbatas terhadap penjajah. Dalam konteks Bilok Petung, maknanya bergeser menjadi perlawanan sosial:
Perjuangan tiga desa untuk memisahkan diri dari Desa Induk Sajang sejak tahun 2001, yang memanas dengan pro dan kontra karena Desa Sajang tidak mengizinkan perluasan. Alasannya adalah ketiga dusun ini memiliki potensi subur, pasar, kebun desa, dan lahan HGU, sementara masyarakat merasa kekurangan pelayanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar