KM. Bilok Buntu kali ini kami
hendak mengajak kawan-kawan sekalian untuk berwisata sejarah di sekitaran
wilayah Kecamatan Sembalun. Selain kaya akan objek wisata alam, Sembalun juga
memiliki beberapa objek wisata religi, sejarah dan budaya, seperti peninggalan
berupa masjid tua, rumah adat, tradisi ngayu-ayu
dan petilasan orang-orang besar pada masa berkembangnya kerajaan Sembahulun
yang didirikan dan dibesarkan oleh seorang petapa yang bernama Sigar Penyalin. Nah,
kali ini kami hanya akan mengajak anda untuk mengenal serpihan peninggalan Sejarah
Budaya Islam yang disebut dengan nama Langgar Bilok Petung.
Langgar Bilok
Petung, demikianlah warga sekitar menyebut sebuah peninggalan islam yang berupa
masjid tua (masjid kuno) yang keberadaannya masih dijaga dan lestarikan hingga
saat ini. Oya, kawan ngtrip, warga dan para pencinta Kampung Media… Langgar
Bilok Petung merupakan masjid tertua yang ada di sekitaran wilayah Kecamatan
Sembalun dan bahkan masjid paling tua di sekitaran Lombok Wilayah Utara sebab
masjid ini didirikan lebih dulu dari Masjid Kuno Bayan. Peninggalan sejarah
islam yang satu ini berada di tengah-tengah Dusun Adat Bilok Petung Desa Bilok
Petung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Masjid Tua ini
didirikan pada sekitaran awal abad ke ahir abad XV Masehi. Nah terkait dengan
hal itu maka rasanya kurang apdol jika kami tidak menceritakan atau mengulas
sejarah singkat keberadaan situs sejarah ini. Untuk itu, berikut ini kami akan
menceritakan sejarahnya sesuai dengan keterangan yang kami dapatkan dari Amaq
Lokak Bilok Petung (Amaq Darwinggih).
Diceritakan
bahwa Langgar Bilok Petung merupakan rentetan perjalanan berdirinya Masjid
Agung Bayan Beleq (Masjid Kuno Bayan). Keberadaan Langgar Bilok Petung dan
masjid kuno lainnya (di wilayah Lombok Utara) tidak lepas dari perjalanan Gauz
Abdurrazak dalam ekpedisinya mencari tempat yang tepat untuk mendirikan
Kerajaan Islam.
Konon, setelah
Gaus Abdul Razak menyempurnakan pengetahuan islamnya dari Baghdat, ia diutus untuk kembali ke Lombok oleh
gurunya dengan mengemban tugas mendirikan kerajaan islam dan membesarkan
pengaruh islam di Lombok. Sesampai di Lombok, gauz Abdurrazak kembali ke tanah
kelahirannya (Loloan-Bayan).
Sesampai di
Loloan, Gauz Abdurrazak menemukan saudaranya yang bernama Titi Mas Serempung
yang saat itu telah menggantikan ayahandanya (Titi Mas Pakel) memegang tangkup
pemerintahan di Loloan. Kepada Titimas Serempung, beliau menceritakan misinya
untuk mendirikan kerajaan islam di bumi Lombok. Mendengar cerita saudaranya,
Titi Mas Serempung menganjurkan saudaranya untuk meminta izin kepada
ayahandanya (Titi Mas Pakel) yang saat itu tengah berhaluat diri di Gunung
Batua (wilayah Desa Obel-Obel saat ini).
Gauz Abdurrazak
yang bernama kecil Titi Mas Muter ini melanjutkan perjalannya untuk menemui
ayahandanya. Sesampai di Batua, beliau menemukan ayahandanya tengah berhaluat
di dalam sebuah masjid kecil yang disebut dengan nama Masjid Gunung Batua
(sekarang tinggal pondasinya saja). Di sana, Gauz menceritakan tugas yang
diembannya dan sang ayah-pun merestuinya untuk mencirikan kerajaan islam dengan
persyaratan, ia harus membawa tiang sokoguru Masjid Gunung Batu. Ia boleh
mendirikan kerajaan di suatu tempat yang dimana tiang soko guru itu bisa
berdiri dengan tegak. Beliau-pun setuju atas titah ayahanda-nya. Konon, tiang
soko guru masjid tersebut (Masjid Gung Batua) terbuat dari Kayu Santaguri
(Lenggasingan).
Singkat cerita,
Gauz Abdurrazak melanjutkan misinya. Sebelum berangkat, Titi Mas Pakel 43 orang
pengikutnya untuk menemani Gauz Abdurrazak melakukan perjalanan guna mencari
tempat yang tepat untuk mendirikan kerajaan islam. Perjalanan-pun dimulai, Gauz
Abdurrazak dan 43 orang pengikutnya turun dari Gunung Batua, mereka membawa
tiang sokoguru itu ke arah barat daya. Sesampai di Bilok Buntu (sekarang
disebut Bilok Petung), mereka mencoba mendirikan tiang tersebut. Al-hasil,
tiang itu tidak bisa berdiri dengan tegak, konon tiang itu berdiri miring ke
arah utara.
Untuk mengabadikan
bahwa di tempat itu mereka pernah mencoba mendirikan tiang tersebut maka Gauz
dan para pengikutnya membuat sebuah masjid kecil yang sekarang disebut dengan
nama Langgar atau Masjid Lokak Bilok. Di masjid itu Gauz meninggalkan seorang
pengikutnya untuk mengurus masjid tersebut sekaligus ditugaskan untuk
mengajarakan konsep islam sejati kepada orang-orang yang ada di tempat itu.
Pengikutnya itu bernama Titi Langgara yang disebut juga dengan nama Lokaq
Bilok, beliaulah yang menjaga masjid itu dan menyempurnakan pemahaman islam
orang-orang yang ada di sekitaran wilayah itu. Sementara itu, Gauz Abdurrazak
dan 42 orang pengikitnya melanjutkan perjalanan hingga tiang itu berdiri tegak
di Memontong (tempat berdirinya Masjid Kuno Bayan saat ini).
Sepeninggal Gauz
Abdurrazak, Titi Langgara menjaga masjid tersebut dan mengajak orang-orang yang
bermukin di sekitar-nya untuk meramaikannya. Di langgar ini-lah Titi Langgara
mengajarkan ajaran islam sejati kepada masyarakat sekitarnya. sepeninggal Titi
Langgara, Langgar ini terus dipelihara oleh murid-muridnya dan alhamdulillah
hingga saat ini, Langgar tersebut masih dapat kita temukan.
Kawan ngtrip,
demikianlah sejarah singkat berdirinya Langgar Bilok Petung, jika anda ingin
mengetahui lebih jauh dan penasaran akan bentuk peninggalan sejarah islam
tertua di wilayah Sembalun tersebut maka berkunjunglah ke Dusun Adat Bilok
Petung, di sana anda dapat mengorek keterangan dari Amaq Lokaq Bilok Petung dan
para tetua adat yang ada di sana.
Hingaa saat ini,
Langgar Bilok Petung hanya digunakan untuk kepentingan ritual adat saja,
seperti pada saat pelaksanaan Lebaran Adat (Lebaran Pendek dan Lebaran Tinggi),
pelaksanaan acara wiwitan dan selamet/tetulak gubuq. Mengenai masalah
pemeliharaannya, Langgar ini dipelihara oleh masyarakat Adat Desa Bilok Petung
dan direnopasi satu kali dalam delapan tahun, yakni pada saat datangnya awal
tahun Alip dalam perhitungan kalender Sasak.
Jika anda
berkunjung ke situs sejarah ini, anda tidak hanya menemukan Langgar Bilok
Petung saja sebab di sekitaran Dusun Adat Bilok Petung juga terdapat sebuah
petilasan yang disebut dengan nama Makam
Bongkok yang konon petilasan itu adalah tempat dimana Nabi Adam pernah
beristirahat pada saat ia melakukan pengembaraan mencari Siti Hawa. Heheeee,
ini sich mitologi kawan, bisa dipercayai bisa juga tidak. Namun tidak menutup
kemungkinan jika Nabi Adam pernah menapakkan kaki di tempat itu sebab dalam
kisah, beliau berkeliling selama 40 tahun untuk mencari keksaih pujaannya
setelah mereka dibuang dari Syurga karena memakan Buah Khuldi.
Mengenai Makam
Batu Bongkok ini, ada juga yang mengatakan bahwa makan tersebut adalah sebuah
symbol yang menjelaskan tentang asal muasal manusia. Di atas batu berbentuk
makam itu terdapat tiga buah batu yang tertancap menyerupai nisan, dua
diantaranya adalah batu yang berbentuk bungkuk (menyerupai orang rukuk) dan
yang satunya lagi berdiri dengan tegak. Batu yang membungkuk itu adalah
perlambangan Adam dan Muhammad, sedangkan yang tegak itu adalah perlambangan
Allah SWT. Dengan demikian, di dalam monument Batu Bongkok tersebut terdapat
petunjuk bahwa manusia harus berlaku
taat kepada Yang Maha Pencipta.
Di Dusun Adat
Bilok petung, anda juga dapat menyaksikan konstruksi rumah adat Sasak yang
disebut dengan nama Bale Mengine
sebab di dusun tersebut konstruksi rumah adat masih dipertahankan. Di dalam
sebuah ruamah adat yang berada di dekat Batu Bongkok, tersimpat beberapa
peninggalan sejarah islam yang berupa stempel dunia bertulis aksara arab, Ayat
Al-Qur’an yang tertulis pada kulit unta, wajan raksasa dan barang-barang
peninggalan budaya islam yang berupa alat rumah tangga. Hanya saja, tempat
penyimpanan barang-barang tersebut mempunyai waktu tertentu untuk kita dapat
melihatnya. Katanya sich pada malam senin dan kamis, itu-pun kita harus
menyediakan persyaratan tertentu untuk dapat menyaksikannya. Tapi sungguh
barang-barang itu masih ada di sana sebab pada tanggal 15 Sakaban lalu penulis
sempat menyaksikan keberadaannya ketika warga setempat melakukan ritual Tolaq Bala di tempat itu. Hanya saja,
tetua adat setempat tidak memberikan izin kepada penulis untuk mengambil gambar
(memoto) barang-barang tersebut.
Yach, sepertinya
cerita kami hanya sampai disini dulu kawan sebab jari-jari ne udah mulai pegel,
iiiiihaaaaa. Oya, sebelum kami mengahiri tulisan ini, warga setempat menitip
harapan kepada kami supaya menyampaikan kepada pihak berwenang agar Langgar
Bilok Petung dan peninggalan sejarah yang ada disekitarnya diberikan
Undang-Undang Cagar Budaya atau dimasukkan sebagai salah satu benda cagar
busaya agar supaya peninggalan sejarah tersebut dapat dilestarikan hingga anak
cucu kita di kemudian hari dan agar anak cucu kita tidak buta akan sejarah
nenek moyang mereka.
Demikian, semoga
pihah berwenang dapat mendengar dan melunasi harapan warga Dusun Adat Bilok
Petung itu. Ya… jika-pun tidak bisa, cukuplah pihak pemerintah dan pihak-pihak
terkait dapat memberikan perhatian yang sepadan terhadap keberadaan situs
sejarah tersebut. terimakasih atas kunjungannya, mohon maaf atas segala
kekurangan dan salam dari kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar