Senin, 27 Februari 2017

Langgar, Masjid Tertua di Desa Bilok Petung Sembalun

KM. Bilok Buntu kali ini kami hendak mengajak kawan-kawan sekalian untuk berwisata sejarah di sekitaran wilayah Kecamatan Sembalun. Selain kaya akan objek wisata alam, Sembalun juga memiliki beberapa objek wisata religi, sejarah dan budaya, seperti peninggalan berupa masjid tua, rumah adat, tradisi ngayu-ayu dan petilasan orang-orang besar pada masa berkembangnya kerajaan Sembahulun yang didirikan dan dibesarkan oleh seorang petapa yang bernama Sigar Penyalin. Nah, kali ini kami hanya akan mengajak anda untuk mengenal serpihan peninggalan Sejarah Budaya Islam yang disebut dengan nama Langgar Bilok Petung.
Langgar Bilok Petung, demikianlah warga sekitar menyebut sebuah peninggalan islam yang berupa masjid tua (masjid kuno) yang keberadaannya masih dijaga dan lestarikan hingga saat ini. Oya, kawan ngtrip, warga dan para pencinta Kampung Media… Langgar Bilok Petung merupakan masjid tertua yang ada di sekitaran wilayah Kecamatan Sembalun dan bahkan masjid paling tua di sekitaran Lombok Wilayah Utara sebab masjid ini didirikan lebih dulu dari Masjid Kuno Bayan. Peninggalan sejarah islam yang satu ini berada di tengah-tengah Dusun Adat Bilok Petung Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Masjid Tua ini didirikan pada sekitaran awal abad ke ahir abad XV Masehi. Nah terkait dengan hal itu maka rasanya kurang apdol jika kami tidak menceritakan atau mengulas sejarah singkat keberadaan situs sejarah ini. Untuk itu, berikut ini kami akan menceritakan sejarahnya sesuai dengan keterangan yang kami dapatkan dari Amaq Lokak Bilok Petung (Amaq Darwinggih).
Diceritakan bahwa Langgar Bilok Petung merupakan rentetan perjalanan berdirinya Masjid Agung Bayan Beleq (Masjid Kuno Bayan). Keberadaan Langgar Bilok Petung dan masjid kuno lainnya (di wilayah Lombok Utara) tidak lepas dari perjalanan Gauz Abdurrazak dalam ekpedisinya mencari tempat yang tepat untuk mendirikan Kerajaan Islam.
Konon, setelah Gaus Abdul Razak menyempurnakan pengetahuan islamnya dari Baghdat,  ia diutus untuk kembali ke Lombok oleh gurunya dengan mengemban tugas mendirikan kerajaan islam dan membesarkan pengaruh islam di Lombok. Sesampai di Lombok, gauz Abdurrazak kembali ke tanah kelahirannya (Loloan-Bayan).
Sesampai di Loloan, Gauz Abdurrazak menemukan saudaranya yang bernama Titi Mas Serempung yang saat itu telah menggantikan ayahandanya (Titi Mas Pakel) memegang tangkup pemerintahan di Loloan. Kepada Titimas Serempung, beliau menceritakan misinya untuk mendirikan kerajaan islam di bumi Lombok. Mendengar cerita saudaranya, Titi Mas Serempung menganjurkan saudaranya untuk meminta izin kepada ayahandanya (Titi Mas Pakel) yang saat itu tengah berhaluat diri di Gunung Batua (wilayah Desa Obel-Obel saat ini).
Gauz Abdurrazak yang bernama kecil Titi Mas Muter ini melanjutkan perjalannya untuk menemui ayahandanya. Sesampai di Batua, beliau menemukan ayahandanya tengah berhaluat di dalam sebuah masjid kecil yang disebut dengan nama Masjid Gunung Batua (sekarang tinggal pondasinya saja). Di sana, Gauz menceritakan tugas yang diembannya dan sang ayah-pun merestuinya untuk mencirikan kerajaan islam dengan persyaratan, ia harus membawa tiang sokoguru Masjid Gunung Batu. Ia boleh mendirikan kerajaan di suatu tempat yang dimana tiang soko guru itu bisa berdiri dengan tegak. Beliau-pun setuju atas titah ayahanda-nya. Konon, tiang soko guru masjid tersebut (Masjid Gung Batua) terbuat dari Kayu Santaguri (Lenggasingan).
Singkat cerita, Gauz Abdurrazak melanjutkan misinya. Sebelum berangkat, Titi Mas Pakel 43 orang pengikutnya untuk menemani Gauz Abdurrazak melakukan perjalanan guna mencari tempat yang tepat untuk mendirikan kerajaan islam. Perjalanan-pun dimulai, Gauz Abdurrazak dan 43 orang pengikutnya turun dari Gunung Batua, mereka membawa tiang sokoguru itu ke arah barat daya. Sesampai di Bilok Buntu (sekarang disebut Bilok Petung), mereka mencoba mendirikan tiang tersebut. Al-hasil, tiang itu tidak bisa berdiri dengan tegak, konon tiang itu berdiri miring ke arah utara.
Untuk mengabadikan bahwa di tempat itu mereka pernah mencoba mendirikan tiang tersebut maka Gauz dan para pengikutnya membuat sebuah masjid kecil yang sekarang disebut dengan nama Langgar atau Masjid Lokak Bilok. Di masjid itu Gauz meninggalkan seorang pengikutnya untuk mengurus masjid tersebut sekaligus ditugaskan untuk mengajarakan konsep islam sejati kepada orang-orang yang ada di tempat itu. Pengikutnya itu bernama Titi Langgara yang disebut juga dengan nama Lokaq Bilok, beliaulah yang menjaga masjid itu dan menyempurnakan pemahaman islam orang-orang yang ada di sekitaran wilayah itu. Sementara itu, Gauz Abdurrazak dan 42 orang pengikitnya melanjutkan perjalanan hingga tiang itu berdiri tegak di Memontong (tempat berdirinya Masjid Kuno Bayan saat ini).
Sepeninggal Gauz Abdurrazak, Titi Langgara menjaga masjid tersebut dan mengajak orang-orang yang bermukin di sekitar-nya untuk meramaikannya. Di langgar ini-lah Titi Langgara mengajarkan ajaran islam sejati kepada masyarakat sekitarnya. sepeninggal Titi Langgara, Langgar ini terus dipelihara oleh murid-muridnya dan alhamdulillah hingga saat ini, Langgar tersebut masih dapat kita temukan.
Kawan ngtrip, demikianlah sejarah singkat berdirinya Langgar Bilok Petung, jika anda ingin mengetahui lebih jauh dan penasaran akan bentuk peninggalan sejarah islam tertua di wilayah Sembalun tersebut maka berkunjunglah ke Dusun Adat Bilok Petung, di sana anda dapat mengorek keterangan dari Amaq Lokaq Bilok Petung dan para tetua adat yang ada di sana.
Hingaa saat ini, Langgar Bilok Petung hanya digunakan untuk kepentingan ritual adat saja, seperti pada saat pelaksanaan Lebaran Adat (Lebaran Pendek dan Lebaran Tinggi), pelaksanaan acara wiwitan dan selamet/tetulak gubuq. Mengenai masalah pemeliharaannya, Langgar ini dipelihara oleh masyarakat Adat Desa Bilok Petung dan direnopasi satu kali dalam delapan tahun, yakni pada saat datangnya awal tahun Alip dalam perhitungan kalender Sasak.
Jika anda berkunjung ke situs sejarah ini, anda tidak hanya menemukan Langgar Bilok Petung saja sebab di sekitaran Dusun Adat Bilok Petung juga terdapat sebuah petilasan yang disebut dengan nama Makam Bongkok yang konon petilasan itu adalah tempat dimana Nabi Adam pernah beristirahat pada saat ia melakukan pengembaraan mencari Siti Hawa. Heheeee, ini sich mitologi kawan, bisa dipercayai bisa juga tidak. Namun tidak menutup kemungkinan jika Nabi Adam pernah menapakkan kaki di tempat itu sebab dalam kisah, beliau berkeliling selama 40 tahun untuk mencari keksaih pujaannya setelah mereka dibuang dari Syurga karena memakan Buah Khuldi.
Mengenai Makam Batu Bongkok ini, ada juga yang mengatakan bahwa makan tersebut adalah sebuah symbol yang menjelaskan tentang asal muasal manusia. Di atas batu berbentuk makam itu terdapat tiga buah batu yang tertancap menyerupai nisan, dua diantaranya adalah batu yang berbentuk bungkuk (menyerupai orang rukuk) dan yang satunya lagi berdiri dengan tegak. Batu yang membungkuk itu adalah perlambangan Adam dan Muhammad, sedangkan yang tegak itu adalah perlambangan Allah SWT. Dengan demikian, di dalam monument Batu Bongkok tersebut terdapat petunjuk bahwa manusia harus berlaku  taat kepada Yang Maha Pencipta.
Di Dusun Adat Bilok petung, anda juga dapat menyaksikan konstruksi rumah adat Sasak yang disebut dengan nama Bale Mengine sebab di dusun tersebut konstruksi rumah adat masih dipertahankan. Di dalam sebuah ruamah adat yang berada di dekat Batu Bongkok, tersimpat beberapa peninggalan sejarah islam yang berupa stempel dunia bertulis aksara arab, Ayat Al-Qur’an yang tertulis pada kulit unta, wajan raksasa dan barang-barang peninggalan budaya islam yang berupa alat rumah tangga. Hanya saja, tempat penyimpanan barang-barang tersebut mempunyai waktu tertentu untuk kita dapat melihatnya. Katanya sich pada malam senin dan kamis, itu-pun kita harus menyediakan persyaratan tertentu untuk dapat menyaksikannya. Tapi sungguh barang-barang itu masih ada di sana sebab pada tanggal 15 Sakaban lalu penulis sempat menyaksikan keberadaannya ketika warga setempat melakukan ritual Tolaq Bala di tempat itu. Hanya saja, tetua adat setempat tidak memberikan izin kepada penulis untuk mengambil gambar (memoto) barang-barang tersebut.
Yach, sepertinya cerita kami hanya sampai disini dulu kawan sebab jari-jari ne udah mulai pegel, iiiiihaaaaa. Oya, sebelum kami mengahiri tulisan ini, warga setempat menitip harapan kepada kami supaya menyampaikan kepada pihak berwenang agar Langgar Bilok Petung dan peninggalan sejarah yang ada disekitarnya diberikan Undang-Undang Cagar Budaya atau dimasukkan sebagai salah satu benda cagar busaya agar supaya peninggalan sejarah tersebut dapat dilestarikan hingga anak cucu kita di kemudian hari dan agar anak cucu kita tidak buta akan sejarah nenek moyang mereka.

Demikian, semoga pihah berwenang dapat mendengar dan melunasi harapan warga Dusun Adat Bilok Petung itu. Ya… jika-pun tidak bisa, cukuplah pihak pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian yang sepadan terhadap keberadaan situs sejarah tersebut. terimakasih atas kunjungannya, mohon maaf atas segala kekurangan dan salam dari kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar